Pengalaman Drama Terbang Bersama Batita

Ngomongin soal traveling, rasanya gak ada matinya deh ya? Dulu sih pengennya bisa keliling Indonesia bahkan  juga punya impian untuk keliling dunia. Walau kenyataannya sampai sekarang jangankan bisa wujudkan itu semua, keliling Sulawesi aja belum nih, heheheh. Yakaliii setelah ini ada yang sponsori buat jadi Travel Blogger, tentu saya gak nolak kok! Beneran, xixixix.

drama terbang bersama batita

 
Sejak punya anak, bepergian sendiri itu rasanya baru sekali. Hmm, itu juga sebenarnya gak pergi sendiri sih karena saat itu sedang hamil masuk usia kandungan 5 bulanan lah. Pas banget waktu itu ada undangan training ke kantor pusat (Jakarta). Sebenarnya sih berat hati mau pergi gak bawa anak, tapi karena waktu itu ada beberapa pertimbangan, salah satunya biar sekalian juga si Tengah bisa disapih karena dia masih nenen sementara perut udah makin mbuncit dan kuantitas ASI juga sudah tidak seperti bulan-bulan awal kehamilan. Jadilah kali itu saya tidak membawa satu pun anak untuk business trip.

Pengalaman Traveling Bersama Batita

Pertama kali bepergian dengan batita yaitu saat si Kakak usianya 7 bulan, waktu itu Lebaran 2015 kami berangkat ke kampung Paksuami. Ini kali pertama kami traveling bersama bocah dan syukurnya selama di perjalanan dia anteng aja. Perjalanannya dengan menggunakan kapal cepat dari Kendari menuju Raha sekitar 3 jam, Alhamdulillah ombak kala itu juga lagi tenang jadi gak ada drama perjalanan. 

Begitupun saat kami membawanya kembali ke kampung Kakek Neneknya di Raha itu tahun berikutnya saat Lebaran tiba. Malah perjalanan saat Lebaran 2016 ini lebih panjang karena kebetulan kami menempuh perjalanan darat dulu lalu menyebrang naik ferry menuju Raha. Tidak hanya itu saja, kami malah sempat nginap di pelabuhan gegara harus ikut jadwal kapal di hari berikut karena penumpang arus mudik yang membludak. Huufft, minta ampun deh emang kalau menyebrangnya dengan ferry dan kita bawa kendaraan pribadi di kala arus mudik/balik seperti itu. Ya siap-siap tenaga ekstra untuk hadapi perjalanan. Syukurnya lagi-lagi Si Kakak anteng aja menikmati perjalanannya. 

Alhamdulillah, anak-anak saya semuanya sudah merasakan perjalanan sejak usia mereka masih batita. Si Tengah malah traveling pertama lebih heboh lagi karena berangkat ke Raha naik kapal cepat di usianya yang masih 2 bulan. Tidak hanya itu saja, perjalanan yang kami tempuh itu bolak balik dalam sehari saja sebab waktu itu kami ada urusan dadakan. Sedangkan Si Dedek malah Alhamdulillah naik kelas, traveling pertamanya dengan pesawat saat usianya 5 bulan. Waktu itu Dedek ikut Mamak annual meeting di Makassar, September 2019 lalu. 


Drama Terbang Bersama Batita


Hmm, meskipun anak-anak sudah beberapa kali traveling dan tidak ada drama saat perjalanan laut. Ternyata dramanya muncul ketika melakukan perjalanan dengan udara, terbang naik pesawat. Kecuali si Dedek yang baru sekali naik pesawat dan kala itu Alhamdulillah anteng-anteng aja dia. 


Apa sajakah dramanya? Jreng-jreng-jreeeeng~~~


pengalaman traveling dengan batita


Oh iya, untuk Si Kakak sendiri sudah 3 kali ikut Mama saat business trip yaitu ke dua kali ke Jakarta dan sekali ke Surabaya. Lalu Si Tengah 2 kali, mana kala ikut ke Surabaya dan Makassar. Sedangkan Si Dedek baru sekali ikut last trip Mama ke Makassar. FYI, semua tiket perjalanan bersama batita ini biaya sendiri lho ya! Jadi yang ditanggung oleh kantor hanyalah tiket pesawat Mama saja, sedangkan tiket bayi dan juga yang mendampingi tentu saja disponsori oleh Mama dan Bapak, hihihih. Kalau untuk akomodasi sih tentu saja fasilitas dari kantor, satu kamar sendiri. 

Drama Terbang Pertama Si Kakak

Well, drama pertama muncul saat terbang pertama Si Kakak ke Jakarta. Kami berangkat saat Ramadan 2016, jadi perginya malah sebelum Lebaran 2016 seperti yang saya cerita tadi. Mama ada training di kantor pusat dan saat itu Si Kakak masih ASI walau bukan ASI eksklusif lagi sih tapi rasanya tidak tega untuk meninggalkannya beberapa hari, apalagi saat itu dia baru saja sembuh dari cacar. Jadilah memutuskan untuk membawanya serta ditemani oleh Tante saya. 

Persiapan berangkatnya berjalan mulus, Si Kakak juga kayaknya happy gitu. Sebelum naik ke pesawat kami sempat menemaninya bermain di playground bandara sambil menunggu pesawat. Saat di pesawat dan transit di Makassar pun juga masih berjalan mulus, belum ada drama. Nah, dramanya muncul ketika beberapa saat akan mendarat di bandara Soekarno Hatta, Si Kakak jadi gelisah dan menolak nenen meski sudah saya bujuk. Semakin saya bujuk malah semakin jadi aja nangisnya. 

Pramugari datang silih berganti untuk bantu menenangkan tapi dia menolak dan yang ada tangisannya makin menjadi. Syukurnya sih flight hari itu tidak begitu ramai. Saya kemudian membawanya ke toilet sekalian cek kali aja dia BAB dan merasa tidak nyaman. Saya cek popoknya tapi aman-aman saja, gak ada kotoran hanya bekas pipis aja. Saya ganti popoknya sekalian, kali aja setelah itu dia akan merasa lebih nyaman. Eeh tapi tangisnya masih tetap walau sudah tidak seheboh sebelumnya. Kayaknya sih telinganya sakit pengaruh tekanan udara, makanya dia jadi gak nyaman gitu, sayangnya dia hanya bisa menangis saja karena belum bisa menyampaikan apa yang dia rasa. 


Drama Terbang Bersama Si Tengah

Kalau Si Kakak dramanya lebih ke fisik, beda lagi  dengan saat terbang bersama si Tengah. Dua kali terbang bersamanya ada aja drama yang menghampiri, hihih. Pertama saat ke Surabaya di usianya yang hampir 1 tahun, September 2018. Sebagai mamak yang malas rempong saat di perjalanan dan selama bepergian, saya selalu menyiapkan dan membawa semua kebutuhan anak. Mulai dari popok, susu, cemilan dan juga makanannya. Paksuami yang selalunya membantu saat packing aja sering celetuk "Kenapa gak bawa lemari atau sekalian rumahnya aja, Ma?" Wkwkwkk.  

Yaaa gimana dong, kan ceritanya sih biar gak perlu repot lagi bolak-balik lagi ke toko sekitaran hotel untuk cari keperluan anak-anak. Belum lagi kegiatan kantor kan juga lumayan padat, jadi sebisa mungkin semua kebutuhan ada di kamar dah, biar gak pusing. Kasihan juga kan ama Tante kalau ada keperluan yang habis sementara saya masih di ruang kegiatan. 

Nah, dramanya itu saat kami baru saja mendarat di bandara Juanda. Saat itu saya, anak-anak dan Tante serta teman-teman kantor ambil satu flight yang sama, biar lebih mudah koordinasi dan bisa bareng gitu ceritanya menuju hotel. Eh ternyata saat hendak mengambil bagasi, salah satu bawaan saya kok gak muncul-muncul ya di conveyer belt? Sementara teman-teman saya sudah pada bersama dengan bagasi mereka masing-masing. Bahkan bagasi pesawat dari Makassar yang mendarat setelah pesawat kami pun juga sudah selesai diambil oleh para penumpangnya. 

Panik gak tuh? Panik doong, masa nggak?! Mana saat itu, saya dan Tante masing-masing bawa bocah kan, Si Kakak di pegang ama Tante sedangkan Si Tengah dalam gendongan saya. Plus saat itu saya juga sebenarnya sudah hamil Si Dedek, karena menurut test pack hasilnya garis dua, tapi saya waktu itu tidak tahu usia kandungan tepatnya berapa karena sebelum berangkat saya emang belum mengecek ke dokter dulu sih. Jujurly kala itu masih sedikit shock dengan hasil test pack. 

Anyway balik lagi ke bagasi yang tak kunjung ketemu itu. Jadilah saya langsung menuju ke counter maskapai dan melapor bahwa kami telah menunggu selama lebih dari 2 jam namun bagasi kami tidak kunjung datang. Dibuatlah laporan dan menurut hasil koordinasi pihak maskapai bahwa memang benar ada satu barang yang tertinggal di Makassar dan mereka berjanji akan mengirim tas tersebut secepatnya.  

Hufft, you know what? Barang yang tertinggal itu isinya antara lain susu dan juga makanan siap saja milik Si Tengan. BT dong pastinya karena niatnya biar semua gak ribet lagi eehh malah jadinya seperti ini. Kami curiga sih barang itu ditahan karena berbentuk serbuk, mungkin disangkanya itu barang terlarang, padahal itu mah cuma susu dan makanan bayik, fiyuuuh. Parahnya lagi yang tadinya janji akan secepatnya mengantarkan barang yang tertinggal itu, eeh yang ada malah barangnya datang sehari sebelum kami balik Kendari dan tidak ada penyampaian apa-apa selama waktu menunggu itu. Parah banget kaaaan?! Bagasi kami ntah dimana rimbanya selama kurang lebih 4 hari lho itu. 

Drama lainnya lagi saat terbang bersama Si Tengah ini yaitu ketika ke Makassar, September 2019. Saat itu hanya Si Tengah dan Dedek yang ikut serta trip kali itu. Nah, dramanya bukan kehilangan bagasi lagi karena kami sudah mengantisipasinya. Lagian waktu itu Si Tengah sudah bisa makan makanan apa aja dan lebih doyan makanan dewasa sih, sedangkan Dedek masih full ASI jadi gak perlu ada makanan fortifikasi segala. Sebelum terbang pun kami juga sudah foto semua barang jadi lebih gampang mengidentifkasi kalau hal serupa terjadi lagi. 

Saat check in di Bandara Sultan Hasanuddin sebelum balik Kendari, semua tiket dicek dong termasuk tiket anak-anak juga. Berhubung saat itu Si Tengah masih infant karena usianya memang belum genap 2 tahun jadilah emang masih berhak atas tiket infant dong. Eh ternyata pihak bandara kurang percaya karena melihat postur tubuh Si Tengah yang sepertinya tidak sesuai dengan usianya. Saya pun diminta untuk membuktikan dengan memperlihatkan kartu identitasnya. 

Sayang sekali saat itu saya lupa membawa kartu keluarga maupun kartu identitas yang ada keterangan tanggal lahir Si Tengah, bahkan saya sampai membuka laptop untuk mencari scanan kartu asuransi atau sejenisnya agar mereka yakin dan percaya. Alhamdulillah sih akhirnya diloloskan juga. Jadi pelajaran juga nih agar ketika jalan bersama batita apalagi yang memang masih infant, kita harus membawa serta dokumen yang diperlukan. 


Catatan Penting dari Drama Terbang Bersama Batita

Tiap perjalanan pasti punya ceritanya sendiri, begitupula dengan saat terbang bersama batita pun juga ada cerita masing-masing. Dari beberapa drama terbang atau bepergian bersama batita yang saya alami sendiri sih, saya mencatat bahwa memang sangat penting memperhatikan hal-hal seperti berikut ini: 

  • Kesehatan dan kenyamanan anak; Namanya juga batita mereka belum sepenuhnya bisa mengeluhkan apa yang mereka rasakan jadilah kita sebagai orang tua harus bisa segera tanggap jika anak menunjukkan rasa tidak nyaman. Kesehatan sangat penting untuk diperhatikan karena jika anak sakit maka segala rencana bisa bubar jalan. Saat terbang, penting banget untuk menyiapkan sesuatu yang bisa mengalihkan perhatian anak dari kecemasannya sendiri yang belum bisa mereka katakan. Jika anak masih menyusu, susuilah saat take off dan landing position karena tekanan udara bisa membuat telinga anak menjadi tidak nyaman. Jika tidak dekaplah anak dan buat mereka senyaman mungkin, bisa beri permen atau sesuatu yang bisa mereka kunyah. 
  • Hindari membawa barang yang berupa bubuk atau serbuk; Jangan seperti saya ya, niat hati biar gak ribet di tempat tujuan, eehh yang ada malah zonk! Saya tetap aja harus cari bekal secukupnya sambil menunggu bagasi yang ntah kemana rimbanya itu. Barang yang berupa bubuk atau serbuk ini bisa mengundang kecurigaan petugas dan bisa saja barang tersebut ditahan dan kita pun juga akan dipanggil untuk dimintai keterangan. Nah, kan jadi makin ribet tuh urusannya. Syukurnnya saya waktu itu tidak sampai dipanggil segala karena udah lapor duluan dan memberi tahu apa saja isi dalam tas tersebut. 
  • Bawalah dokumen penting keluarga; Bagi yang punya batita apalagi postur tubuh Si Bocah gemas-able, wajib banget nih bawa dokumen pentingnya. Gak usah bawa yang asli, cukup copyan atau soft file yang disimpan di handphone maupun di email atau cloud. Biar kata cuma di dalam Negeri tapi itu juga penting lho buat jaga-jaga. Biar petugas percaya kalau anak kita memang masih berhak atas tiket infant ataupun hak-hak mereka lainnya. 

Jadi ingat, waktu ke Surabaya kemarin itu saya sebenarnya udah niat mau extend sehari  atau dua hari gitu deh. Apalagi saat itu jadwal baliknya emang di hari Jumat, ya bisalah itu digunakan untuk jalan-jalan keliling Surabaya atau mungkin juga bisa lanjut lihat Jembatan Suramadu sekaligus wisata Madura juga. Mumpung saat itu ada Adik Sepupu saya yang kuliah di Surabaya yang bisa dijadikan local guide, hehehh. Namun sayangnya karena Si Kakak mendadak demam jadilah rencana extend batal, saya cuma berkunjung ke Taman Flora sekaligus kopdar dengan Niar Ningrum, Sobat Blogger yang sebelumnya emang udah pernah ketemu juga. 

Moga suatu hari nanti masih ada rejeki dan kesempatan bisa jalan-jalan lagi sama para Batita yang sudah tidak Batita lagi, heheheh. Aamiin. Temans ada yang punya pengalaman drama terbang bersama batita juga kah? Sharing di kolom komentar juga yuk. :)



Cheers, 
Diah



Previous Post
9 Comments
  • Hamimeha
    Hamimeha 31 Juli 2022 15.29

    Masya Allah bisa bayangin rempongnya tapi salut mbak bisa tetap bekerja dengan membawa batitanya.

    Aku jadi punya catatan nih dari pengalaman mbk diah gak boleh bawa serbuk. Tapi aku ikut gemes dengan raibjya barnag dibagasi ..ehm..parah gak sih. Bisa dijadikan masukkan gak nih ke maskapainya

  • Brillie
    Brillie 31 Juli 2022 22.38

    Pengalaman yang sama juga terjadi sama ibuku saat membawa pupuk di botol air mineral. Disangkanya narkoba atau apalah kali ya, hehe. Akhirnya koper dibongkar dan barang ditinggal.

    Terbang dengan batita itu ngeri-ngeri sedap. Takutnya dia rewel dan menganggu penumpang lain. Kalau ada penumpang maklum ya alhamdulillah. Kalau ada yang resek, wah siap2 kita bisa viral di medsos :D

    Kalau pertama kali aku terbang dengan balita cuma berdua, saat usia anakku 6 bulan. Alhamdulillah anakku anteng sekali. tidur terus selama perjalanan. selain itu memberikan penutup telinga agar saat take off dan landing, telingga anak2 tidak sakit juga cukup membantu.

  • Raja Lubis
    Raja Lubis 1 Agustus 2022 16.15

    Kalau membawa balita terbang sih belum pernah. Pernah juga yang agak gedean udah kelas 1 SD. Waktu itu, adikku ngerasa takut-takutnya karena baru pertama kali terbang. Dan nggak bisa tidur sepanjang flight. Tapi begitu turun malah ketagihan, pengin naik lagi katanya.

    But, benar sih yang paling penting mengutamakan dulu kesehatan si anaknya sebelum bepergian.

  • Ulfah Aulia
    Ulfah Aulia 2 Agustus 2022 00.02

    Gak kebayang gimana rempongnya bawa2 batita diajak bepergian ya Mbak. Pernah aku ngajak keponakan sendiri jalan2, tapi dari awal kami sudah bekerja sama utk ganti2an megang keponakan ini. Dan pastinya kesehatan ini hal utama utk kita perhatikan sebelum berangkat jalan2 apalagi pergi menggunakan pesawat.

  • Ria Rochma
    Ria Rochma 2 Agustus 2022 00.44

    Tiap anak pasti punya cerita sendiri-sendiri soal naik di angkutan umum. Saat aku ke Jakarta sebelum pandemi, anak keduaku juga agak-agak rewel. Usianya masih 3 tahun, tapi juga sama, punya drama juga. Padahal semua udah diantisipasi, tapi adaaaaa ajah yanv bikin drama saat di lokasi.

  • Linimasaade
    Linimasaade 2 Agustus 2022 01.37

    Salut sama bunda perjuangan banget bawa balita naik pesawat ya. Makasih sudah menuliskannya.

  • Bunsal
    Bunsal 2 Agustus 2022 07.01

    Ya ampun, auto ikutan shock di bagian drama koper palugada bayi dan anak ketinggalan.
    Gak kebayang super rempongnya nyari ulang segala kebutuhan bayi dan anak.
    Mudah-mudahan di flight-flighy selanjutnya lebih minim drama ya mbak.

  • Fajarwalker.com
    Fajarwalker.com 2 Agustus 2022 07.20

    Aku yang calon bapak jadi kebayang-bayang nih. Kayaak, weleh gimana ya rasanya nanti kalo udah punya anak, hehehe

    Pengen rasanya ngajak anak istri liburan jauh gitu. Sepertinya nanti bakalan lebih seru ya. karena kalo ga ada drama ya ga seru wkwkwk

  • Antung apriana
    Antung apriana 2 Agustus 2022 08.57

    waduh lama banget ya, mbak barangnya dikirim lagi. malah nambah-nambahin koper pas pulang aja ya. kalau saya baru 2 kali pernah ngajak anak pertama naik pesawat pas masih bayi. alhamdulillah nggak terlalu banyak drama sih

Add Comment
comment url