Skip to main content

Selektif Memilih Komunitas

Berteman itu gak boleh sembarangan. Gak apa-apa deh dibilang selektif, dicap sok milih-milih daripada asal milih teman lalu yang ada akan menyusahkan dan menjerumuskan kita ke dalam suatu masalah, kan ribet jadinya. 


pexels.com

Dalam sebuah Hadist, Rasulullah Muhammad SAW mengingatkan:  

"Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.(HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628) 

Hmm, dari Hadist itu sudah jelas banget kan ya jika Rasul sendiri yang mana menjadi panutan kita semua sudah mengingatkan kita tentang pertemanan, memilih teman. Maka, sudah sepatutnya jika hendak memilih teman kita perlu melihat seperti apa orang tersebut, apakah bisa memberi kebaikan kepada kita atau malah sebaliknya. Begitupula jika ingin mengikuti komunitas atau suatu perkumpulan tertentu. 

Saat ini sudah banyak komunitas yang bertebaran. Baik yang virtual maupun yang nyata. Kenapa virtual? Ya karena membernya tersebar di seluh pelosok belahan dunia ini. Bertemunya cuma lewat layar semata, melalui media sosial dan segala interaksinya pun hanya dilakukan lewat perantara jaringan internet saja. Berbeda dengan komunitas yang bisa bertemu langsung, bertatap muka antar sesama anggota melalui pertemuan rutin di setiap waktu dan tempat yang telah ditentukan. 

Komunitas yang ada saat ini sungguh beragam jenisnya, tapi kalau dilihat sih kebanyakan komunitas bermula dari kegemaran atau hobi seperti: traveling, kuliner, musik, otomotif, parenting, fotografi, keagamaan dan tentu saja komunitas untuk para Blogger seperti kita pun juga ada. Bahkan komunitas Blogger ini terbagi lagi ke dalam beberapa jenis, dari yang membernya semua kalangan bahkan ada pula yang membernya khusus perempuan saja, tidak hanya itu ada juga komunitas yang khusus untuk berbagi pekerjaan atau job *ini komunitas yang berfaedah banget pastinya ya* 😀 

Nah, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan sebaiknya selektiflah dalam memilih komunitas. Mari intip tips sederhana dalam memilih komunitas (ala diahalsa) yuks! 

1. Latar Belakang
Sebelum mengikuti sebuah komunitas, sebaiknya kita mencari informasi terlebih dahulu tentang komunitas tersebut. Latar belakang terbentuknya komunitas itu, singkatnya apa saja visi dan misi dari komunitas tersebut. Apakah komunitas yang kita tuju bisa membawa kita pada kebaikan atau malah sebaliknya. 

2. Tujuan Bergabung
Setelah tahu latar belakang komunitas yang kita tuju, kembali lagi pada diri kita sendiri. Ajukan pertanyaan kepada diri apa manfaat atau tujuan kita untuk bergabung di komunitas tersebut? Jika tujuannya hanya ingin eksis atau disebut gaul karena punya banyak komunitas, maka hindarilah tujuan seperti itu sebab hal tersebut nantinya akan menyusahkan diri sendiri. Tetapi jika ingin bergabung karena ingin mengembangkan potensi diri dan itu bisa didapatkan dari komunitas yang kita tuju maka lakukanlah dan tetaplah fokus pada tujuan kita begabung itu. 

3. Kegemaran yang Sama 
Pada umumnya kita ingin masuk ke dalam suatu komunitas karena didasari pada kegemaran yang sama. Tidak hanya itu saja bahwa komunitas tertentu bisa menjadi tempat atau sarana berbagi kebaikan. Saling mengingatkan bukan malah saling menjatuhkan. 

4. Kontribusi pada Komunitas
Jika merasa poin-poin di atas sudah sesuai dengan harapan kita bahwa komunitas tersebut bisa berdampak positif, boleh dong bergabung menjadi anggotanya. Lalu, setelah menjadi anggota sebaiknya bersikap aktif dan berkontribusilah pada komunitas yang kita ikuti itu agar terjadi timbal balik yang baik. Saat ini banyak komunitas yang bisa menjadi jembatan dalam berbagi kebaikan kepada yang membutuhkan. Nah, hal ini juga bisa menjadi jalan kita untuk berbuat baik dan turut serta dalam berbagi kebaikan kepada sesama.

Oh ya, perlu diingat juga bahwa dalam berkomunitas rentan pula terjadi perselisihan antara sesama anggota, maka hindarilah hal ini dan jangan pernah bersikap provokatif. 

Bagaimana dengan Temans sekalian? Apakah selama ini menerapkan poin-poin di atas juga dalam memilih komunitas? Atau punya cara lainkah? Sharing juga yuks, biar sama-sama saling melengkapi. 😉


Cheers, 


Diah

Comments

  1. aku juga hobi banget gabung komunitas virtual. tapi semakin ke sini semakin selektif karena ingin lebih bermanfaat. harus mikirin juga waktu dan tenaga yang harus disediakan untuk aktif berpartisipasi. Salah satunya di KEB dan BPN. salam kenal ya mba :)

    ReplyDelete
  2. Sejauh ini sudah menerapkan tips yang mbak Diah bagikan di atas, tapi memang ga mudah menemukan yang benar-benar pas. Itu kenapa aku ga gitu banyak gabung di komunitas2, mungkin aku terlalu selektif, atau memang nggak mudah beradaptasi, jadinya takut dan maju mundur :D

    ReplyDelete

Post a comment

Thanks for Reading^^

Feel free to share your Comment :)

Popular posts from this blog

5 Cara Menjaga Kewarasan Diri Bagi Ibu Rumah Tangga Beranak Tiga

5 Cara Menjaga Kewarasan Diri Bagi Ibu Rumah Tangga Beranak Tiga ~ Udah pertengahan bulan Juli nih. Artinya sudah 4 bulan kita #dirumahaja meski sekarang sudah mulai masuk new normal . Anak-anak juga sudah mulai masuk ajaran baru meski sebagian masih menjalankan proses belajarnya dari rumah, termasuk saya nih yang mulai mendampingi anak belajar dari rumah juga. Syukurnya, sejak akhir Desember lalu saya memang sudah kembali kerja di rumah lagi a.k.a. menjadi Ibu Rumah Tangga lagi karena project sudah selesai. Jadi punya banyak waktu membersamai anak-anak dan kembali terbiasa dengan suasana rumah apalagi saat pandemi seperti sekarang ini. 

Life Must Go On! Melanjutkan Kebiasaan Baik dan Beradaptasi dengan New Normal

New Normal!   Hampir satu bulan belakangan, dua kata ini menjadi sangat familiar di telinga. Pandemi virus Covid-19 yang telah hadir di Indonesia sejak awal Maret lalu memang telah mengubah banyak hal di kehidupan sehari-hari kita. Tidak hanya dari segi ekonomi dan kesehatan, bahkan kehidupan sosial pun juga berubah. Berbagai upaya telah dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran virus ini. Dari diberlakukannya sekolah dari rumah, kerja dari rumah, bahkan beribadah pun juga terpaksa harus dilakukan dari rumah. Penutupan fasilitas umum diberlakukan dimana-mana, lockdown , Pembatasan Sosial Berskala Besar  (PSBB) dilakukan di berbagai daerah khususnya yang tercatat sebagai wilayah yang masuk dalam zona merah. Tidak hanya itu juga ditutupnya akses transportasi laut dan udara bagi umum sehingga orang tidak bisa lagi bepergian, sungguh miris kehidupan ini.

Disorientasi Arah

Siapa yang masih bingung membedakan arah mata angin: barat, timur, selatan, utara, dsb? Ayooo, ngacuuung! 🙋 pixabay.com Yaaay, itu sih saya yaaaa. Makanya ini cari teman 😆 Padahal tahu atau lebih baik lagi menguasai arah mata angin itu bagus lho. Kenapa? Yah biar gak tersesat, itu salah satunya. Iyah, gak mau doong kalau pas lagi jalan di suatu keramaian, atau tempat baru terus tiba-tiba blank gak bisa nemu jalan keluarnya lagi. Duh, pasti ngeselin banget kan ya? Iyes, emang sih masih bisa nanya ke orang sekitar tapi kan pasti ada rasa malu dan sungkan juga, yeekaaaan? 😁